Segurat Kisah Korban Anti-PKI dalam “Sang Penari” dan “Bangkit dari Bisu”

 

Pada saat pembasmian pergerakan 30 September PKI, cukup banyak rakyat biasa sebagai korban. Ada yang tidak tahu-menahu atau sebatas ikutan pekerjaan yang diselenggarakan PKI lantas diamankan.

Situs Slot Online Terpercaya Ada yang dipenjara belasan tahun ada juga yang harus lapor. Narasi mengenai korban dakwaan itu diceritakan dalam film “Si Penari”.

Dalam film yang dibalut Ifa Isfansyah ini diceritakan desa rumah Srintil (Prisia Nasution), Dukuh Paruh, selanjutnya kehadiran seorang yang akui akan menolong memajukan desa itu. Dukuh Paruh memang desa yang miskin, tanahnya gersang.

Seorang itu janji akan melepaskan mereka dari kemiskinan. Dia minta menempatkan satu papan di desa itu. Masyarakat desa yang buta huruf juga setuju-setuju saja.

Di lain sisi Srintil semakin terkenal untuk penari ronggeng. Dia seringkali mendapatkan undangan menari di acara kesenian rakyat yang diselenggarakan partai komunis.

Lantas pergerakan 30S PKI itu menyeret desa itu. Desa itu selanjutnya diobrak-abrik oleh aparat yang menyebutkan mereka pergerakan anti komunis. Masyarakat desa juga diamankan serta diinterogasi. Tidak kecuali Srintil.

Dukuh Paruk lantas hancur serta tidak berpenghuni. Masyarakatnya diangkut entahlah ke mana. Rasus (Oka Antara), rekan kecil Srintil yang sudah jadi tentara, tidak bisa membantu masyarakat desanya orang yang dicintainya pada saat kecilnya.

Deskripsi mengenai begitu kacaunya keadaan politik pada saat itu tergambar jelas dalam film itu. Rakyat jelata yang buta huruf serta tidak tahu apa-apa diperalat dengan cara politik tanpa ada mereka kenali. Akhirnya saat diamankan, mereka tidak tahu letak kekeliruan mereka serta cuman dapat pasrah pada hukuman yang menunggu.

Satu film roman yang ironis. Srintil yang cuman ingin bayar dosa ke-2 orang tuanya dengan jadi penari ronggeng serta punya niat memajukan desanya, tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa saat dia didakwa untuk kaki tangan PKI.

Bangun dari Bisu

Satu film yang lain sempat kusimak mengenai kelamnya waktu itu ada film pendek berjudul “Bangun dari Bisu. Saat itu saya melihatnya di acara nobar yang diselenggarakan di Goethehaus.

Dalam film yang disutradarai oleh Shalahuddin Siregar ini, diceritakan satu gabungan suara yang beberapa anggotanya adalah penyintas, bagian keluarga mereka sebagai korban penangkapan serta pembunuhan pergerakan antikomunis, tanpa ada lewat proses pengadilan.

Bu Utati, salah satunya yang menceritakan dalam film ini. Dia diamankan aparat sepulang berlatih gabungan suara, lantas mendekam di penjara semasa belasan tahun. Dia tidak tahu menahu bila tempatnya berlatih, masuk ke sisi pergerakan PKI. Ada pula cerita dari anak yang orang tuanya di-PKI-kan. Dia selalu harus harus lapor.

thejakartapost.com Warga yang buta huruf, bodoh, serta miskip sering jadi sasaran politik. Demikian perihal dengan panggung kesenian. Praktisi seni cuman ingin berkreatifitas, tetapi mereka biasanya tidak tahu bila organisasinya merajut rekanan atau ada hubungannya dengan PKI.

Satu film lagi yakni “The Act of Killing” alias “Jagal” yang memvisualisasikan figur aktor pembunuhan anti-PKI. Satu film yang unik, dengan pemikiran beberapa orang yang ditugaskan untuk membunuh mereka yang dipandang terjebak dalam pergerakan komunis. Film dokumenter ini mengagetkan serta satu saat akan kubahas selanjutnya.

Cukup dengan pembasmian kemiskinan serta kebodohan supaya warga tidak gampang digunakan oleh ideologi serta jadwal politik spesifik. Tetapi sayangnya kemiskinan belum juga terlepas di bumi nusantara ini.

Updated: February 1, 2021 — 7:56 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *