Rutin Check up Finansial di Era Daring

 

Kita harus sekolah daring. Kerja daring. Gurau daring. Nangis daring. Nge-date daring. Ngumpul daring. Ekaristi daring. Wisuda daring. Cek up daring. Ngaji daring. Berbelanja daring. Dari dapur sampai ruangan tamu, semua daring. Dari kamar mandi sampai kamar tidur, disulap daring. Kita dalam jaringan (daring).

Semasa kita dikendalikan Covid-19, kita harus masuk ke jaringan. Kita diinstruksi untuk menyesuaikan. Kita masuk ke masa kenormalan baru – “new normal on daring.” Ekonomi beralih daring – “new economy” (ekonomi daring). Semua ketetapan disemayamkan dalam jaringan. Tidak ada yang diselinapkan. Yang jauh, terasanya dijengakal serta dipanggil.

Walau masuk ke jaringan (daring), ketetapan klinis masih dibawa dan: salah satunya serta yang penting, yaitu memakai masker. Berjumpa daring masih patuhi prosedur pemerintah: pakai masker. Cocok luring (luar jaringan), kita dipantau. Anehnya, dalam jaringan (daring), kita masih dipantau. Satu kali lagi, janganlah lupa pakai masker. Bila Anda diketahui tidak bermasker walau daring, Anda bersiap diviralkan serta dibully habis-habisan.

Di tempat keperluan primer, seperti makan, jalan keluar daring bak mujizat. Orang ‘tak lagi memasak, toh masak daring. Tinggal click, makanan sampai di meja. Menarik, tetapi menumpuk malas. Cepat, tetapi menyingkir kodrat. Enak, tetapi menyantun lemak. Daring memang menolong di satu bagian, tetapi di lain sisi mengungkung kreasi.

Di bilik transportasi, skema daring menolong. Setiap hari, saya bisa mengubah merek kendaraan serta supir pribadi. Dengan skema transportasi online, saya dapat pesan grab atau gojek dengan mode kendaraan tidak sama dalam satu hari. Tidak cuman motor atau mobil baru, “new driver” bertukar. Ditambah lagi bila saya mendapatkan “driver” seorang dosen. Saya malah mendapatkan kuliah gratis bermodalkan penghargaan atau nukar point. Sisi ini, mahasiswa tahu baik.

Skema daring ya demikian. Tetapi sekolah daring, malah memilukan. Ongkos operasional untuk sekolah saat ini bertambah gemuk. Kecuali berat finansial untuk pendidik, extra ongkos untuk peserta didik memulai menggelinjang. Jarak yang dahulu dilakukan cara keringat kaki, sekarang dihitung pulsa data. Peserta didik yang dahulu tidak dikasih uang jajan atau uang jajan sekitar Rp 5.000/hari, sekarang naik mencolok dengan rasio android (Rp 1 – 2 juta).

Itu baru ongkos. Bagaimana dengan dinamika? Semua dinamika skema edukasi berpusat dimanapun. Dahulu sempat ada sekolah rimba; saat ini sekolah malah dirimbakan. Anak sekolah bersekolah dari rimba dimana signal menetap. Guru mengajar dari ruangan tamu, dapur, kamar tidur, sedang anak didik memerhatikan dari bawah pohon, juga di atas pohon. Toh disana, signal bersarang. Lucu: Lembaga pendidikan kita dikontrol seutuhnya oleh jaringan.

Di pasar, pertemuan tidak lagi bisa saja. Semua jajakan diarahkan ke skema daring (dalam jaringan). Saat dagangan beralih ke skema daring, penampilannya memikat. Akhirnya, obesitas keperluan bertambah. Daftar keperluan tidak tersangka menjamur. Ingin membeli tas itu, pakaian itu, makanan itu, sepatu itu, ponsel itu. Semua dijajak dalam jaringan (daring). Paketannya menarik. Bukannya daring, kita tidak siap meredam pergerakan budaya konsumsi.

Saya melirik ke bursa dampak. Rupiah diperjualbelikan lumayan murah Rp 14.000 per dollar AS. Kita dapat meredam perkiraan harga rupiah sebab kita tidak stop beli. Market share masih selancar. Warga Indonesia masih membuat lancar pergerakan rotasi uang ditengah-tengah epidemi. Walau pasar hubungan langsung (mall & pasar tradisionil) hening serta terancam musnah, kita masih dibantu daring. Respek saya!

Skema daring memudahkan kita ‘tuk konsumsi. Tidak repot, gampang, menarik, lancar, murah, serta cepat. Ditambah lagi bila ada promosi. Itu surga buat fans serta wisatawan dunia daring. Ongkos ongkir tidak penting. Yang perlu barangnya sampai. Kita diarak ke satu perkembangan pola hidup. Taglinenya: Eh, ada promosi, membeli yuk! Eh, ada potongan harga, berbelanja yuk!

Ingat “sekitar apa saja uang yang Anda punya, itu ‘tak sempat cukup beli pola hidup.” Apakah yang penting saat kita masuk ke kultur hidup yang baru ialah masalah bagaimana teratur lakukan “financial cek up.” Kita kemungkinan gemar menjaga diri dari gempuran Covid-19, tetapi kita lupa menjaga keuangan pribadi atau keluarga. Covid-19 dengan senjata daring menggempur pertahanan ekonomi rumah tangga. Bila tidak mahir serta cermat lihat, kita lupa serta dininabobokan untuk melepas masker keuangan rumah tangga.

Updated: January 13, 2021 — 1:04 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *